Teguh Permana (vokal), Acep Gunawan alias Son! (gitar), Irman alias Nuky (gitar), Budi alias Eboth (bass), dan Rudi alias Day (drum) adalah potret anak daerah yang menggebu dalam bermusik. Terbentuk pada 12 Mei 1999, mereka rajin mengikuti beragam festival yang digelar di tanah kelahirannya, Sukabumi, hingga kota Bandung dan sekitarnya. Dasar memang berpotensi plus hoki, setiap festival yang disambangi pasti mereka juarai. Sampai-sampai Teguh cs tidak boleh ikut festival di Sukabumi sendiri karena pialanya pasti diborong oleh mereka. Sejak tahun 2003 Vagetoz sudah mempunyai pengalaman manggung bareng band papan atas, sebut saja /rif, Samson, Ungu, hingga panggung Soundrenalin. Tahun 2004 mereka berkesempatan rekaman album kompilasi, dengan modal satu single berjudul Sebaiknya Aku Pergi.
Soal nama,
Vagetoz mempunyai cerita tersendiri. Alkisah setiap latihan di studio, mereka selalu memakai nama berbeda-beda karena memang saat terbentuk band ini belum punya nama. Dan setiap akan latihan ada saja personil yang menunda-nunda waktu.
Pageto atuh! Bahasa sunda yang artinya lusa saja. Karena keseringan, lama kelamaan kata pageto menjadi semakin familiar. Biar lebih keren mereka menggantinya dengan kata Vagetoz. Jadilah nama Band Vagetoz.
POP EMOTION
Teken kontrak dengan SONYBMG, Vagetoz siap meluncurkan album solonya yang bertitel
Sesuatu Yang Beda, dimana musiknya mereka sebut dengan istilah
pop emotion. Musik yang diusung
basicnya pop, dengan melodi yang tidak rumit, dan lirik lagu yang lugas, apa adanya. “Setiap lagu yang dibuat sedapat mungkin dihadirkan sebagai ungkapan perasaan yang sesungguhnya. Makanya kita menyebutnya sebagai
pop emotion,” jelas Teguh, motor dari band ini yang merupakan penggemar berat U2 dan Muse, dan mengaku musiknya banyak terinspirasi oleh dua band idolanya ini.
PUTUS CINTA
Suatu ketika Teguh yang menulis sebagian besar lagu di album ini putus dengan ceweknya.
Patah hati karena ditinggalkan oleh sang kekasih ditumpahkan dalam album ini. Jadi tak heran jika 13 lagu yang diusung sebagian besar merupakan curahan hati sang vokalis ini yang sesungguhnya. Bittersweet and mellow adalah benang merah dari album ini.
Simak saja dalam single
kojonya berjudul
Saat Kau Pergi. Nomor
ballad dengan melodi bernuansa melayu ini sarat dengan lirik sedih. Cabikan distorsi gitar elektrik pada bagian refrain menandai puncak kehancuran hatinya.
Dalam lagu
Ervina, diungkapkan mengenai besarnya cintanya pada mantan kekasihnya itu. Balutan melodi gitar yang sederhana tampil manis dengan adanya aksen string.
Kemampuan vokalis dengan nada-nada falsetto-nya menjadi kekuatan tersendiri. Pada lagu
Penyesalan, vokalnya terlihat menonjol, meningkahi beat rock yang menggemuruh.
Usai menjadi pilihan untuk
sweet ballad. Tampil minimalis hanya dengan solo piano, gitar akustik, dan sentuhan string.
Masih berformat minimalis, hadir lagu berdurasi satu menit bertajuk
Selamat Ulang Tahun. Vokal yang lirih hanya ditemani
plain gitar, dengan ilustrasi
ambience rintik hujan nan romantis. Lagu
Pahit menjadi penetral diantara semua lagu. Tak sepahit judulnya, musiknya justru diusung dengan progesi pop ringan, bertempo medium dengan menonjolkan beat loop. Mau yang sedikit rock heavy, dapat disimak dalam lagu
Betapa Aku Mencintaimu. Gitar crunch dimainkan lebih cepat dan gebukan drumnya dimantapkan. Boleh dibilang lagu ini paling maskulin dari semua lagu yang ada.
Vagetoz dengan album Sesuatu Yang Beda, mencoba untuk menawarkan hal yang beda. Meski lekat dengan trend emo, tapi cita rasa melayu tetap ada, karena tak dipungkiri cita rasa inilah yang menjadi selera sejati masyarakat Indonesia pada umumnya